Tampilkan postingan dengan label Franky Sihombing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Franky Sihombing. Tampilkan semua postingan
13.36

Dari Musik Turun Ke Jalan

Gue memulai pelayanan lewat sebuah perjumpaan yang sangat berkesan dengan Tuhan Yesus pada bulan Agustus 1989. Waktu itu gue masih duduk di bangku SMA. Musik dan nyanyi adalah talenta dominan yang Tuhan kasih ke gue. Bermula dari band sekuler di masa SMA, kemudian bersama-sama dengan teman-teman dari sebuah persekutuan doa terus berlanjut sampai terbentuknya band EZRA. Group inilah yang menjadi cikal bakal VOG. EZRA sendiri sempat menghasilkan 3 buah album yaitu KRAJAANMU DATANGLAH, HADIRMU dan EZRA PRAISE. Sedangkan VOG sempat mengeluarkan 2 buah album, yaitu KUSADARI dan VOICE OF GENERATION. Cita-cita awal gue sebenernya menjadi seorang musisi. Tapi pertemuanku dengan Yesus membuat gue berbalik haluan dan akhirnya memilih untuk mulai eksis di musik rohani. Dulu gue ga pernah berpikir tentang karir gue nantinya gimana, tapi satu kerinduan gue, bagaimana gue bisa memberitakan Yesus yang telah merubah hidup gue kepada generasi muda dengan cara yang lebih nyantai, dengan bungkus yang lebih kreatif dan gue lihat lewat musik hal itu bisa terealisasi. Lewat musik, orang bisa menerima pesan yang ingin gue sampaikan dengan lebih gampang.

Dalam penciptaan lagu-lagu gue, tidak ada moment atau situasi khusus yang bisa memancing gue untuk berkarya. Karena yang namanya ide itu datangnya sangat tiba-tiba, ga ngeliat tempat, suasana hati atau apapun juga. Jadi bisa dalam situasi apa aja. Lagi mandi, di pesawat, kereta tiba-tiba ide dasar itu muncul. Biar ga lupa, saat itu juga langsung gue rekam di HP. Setelah itu gue meluangkan waktu untuk membuat lagu itu menjadi lagu yang lengkap. So, you can see semua musik yang mengalir lewat gue semata-mata anugerah dan kasih karunia Yesus semata. Gue sadar banget akan keberadaan gue sebagai saluran dan alat yang mengalirkan pesan-pesan Tuhan bagi generasi muda.

Selain menekuni jalur musik rohani, gue juga mendapat 'beban' dari Si Sumber Inspirasi dan Hidup itu (Yesus -red). Gue mulai membentuk komunitas yang bernama 'Generasi Tanpa Tembok' (GTT). Pelayanan ini dimulai sekitar tahun ’97-‘98an. Saat itu gue dan tim memfokuskan untuk melayani *anak-anak jalanan, preman, pelacur, punkers dan sebagainya. Masih teringat gimana kita turun ke jalan-jalan di daerah Blok M, Mahakam dan beberapa tempat lainnya di Jakarta. Di sana kita mulai berkenalan dengan yang namanya 'orang-orang terhilang' (yang ada tanda *). Waktu itu gue cuman berpikir untuk melayani orang-orang yang tidak terperhatikan dalam gereja. Biasanya kalau kita bicara tentang penuaian jiwa-jiwa, kebanyakan fokusnya itu bukan untuk orang-orang yang terbuang dari masyarakat tapi untuk orang-orang yang kondisinya lebih baik dari mereka. Seperti misalnya pengusaha yang belum bertobat, mahasiswa dan lain-lain. Tidak ada yang berpikir soal menjangkau anak-anak punkers, anak-anak jalanan, banci dan lain-lain. Sedangkan gue pengen ada orang-orang yang justru memperhatikan orang-orang yang tidak terperhatikan dalam gereja pada umumnya. Tuhan yang kasih beban itu ke gue karena gue pikir kalau bukan Tuhan yang kasih, siapa yang mau? Kan lebih enak melayani di gereja-gereja yang mapan daripada pelayanan yang gue pilih. Tapi itulah beban yang Tuhan kasih and gue cuman melaksanakan apa yang Tuhan taruh di dalam hati gue.

Semua ini terlaksana karena gue punya tim. Gue merasa lebih maksimal bekerja dengan adanya orang lain yang sepakat. Jadi waktu pertama kali memulai pelayanan ini benar-benar bareng-bareng dengan tim. Orang-orang yang kita layani, follow up-nya pun betul-betul real sampai kami tampung di rumah, kemudian kami juga mengontrak satu buah rumah lagi untuk bisa menampung mereka sampai kami lihat perubahan dalam hidup mereka. Sampai saat ini gue lihat Tuhan terus bawa kami untuk ga terus terpaku di visi itu. Jadi pelayanan ini sudah semakin berkembang dan sekarang lebih ke anak-anak yang tidak bersekolah dan kami menyemangati supaya mereka bisa sekolah dan biayanya di cover.

Pelayanan kami saat ini lebih berbentuk kepada gereja rumah dengan kejemaatan hanya sekitar 25 orang. Tapi gue rindu banget supaya kehidupan kerohanian mereka betul-betul terjaga. Dari 25 orang ini, mereka punya pelayanannya masing-masing. Mereka bikin gereja-gereja rumah sendiri-sendiri. Ada yang buka sekolah gratis di kolong jembatan di daerah Jakarta Barat, ada yang ngumpulnya sama pendaki gunung-pendaki gunung, anak-anak band, orang-orang yang modelnya seperti itu tapi beda-beda warna. Jadi mereka ini bisa dikatakan menjadi pemimpin untuk melayani orang-orang yang tadinya tidak terperhatikan oleh gereja.
Dulu orang menganggap untuk bergaul dengan mereka, hidup dengan mereka adalah sesuatu yang menyeramkan. Tapi yang gue lihat dan alami ternyata ga seperti itu. Yang gue alami bersama keluarga itu ‘fun’ banget. ‘Fun’dalam pengertian ternyata mereka tidak seberangasan seperti yang kita pikirkan. Mungkin di jalanan mereka seperti kelihatan keras, tapi pada dasarnya dalam hubungan sehari-hari, mereka sangat manusiawi banget. Bisa nangis bareng, bisa ketawa bareng, dan gue sadar kalau ternyata setiap orang itu punya dasar hidup yang baik dan benar. Hanya saja mereka tumbuh dalam lingkungan keluarga yang salah, lingkungan yang keras dan kondisi lainnya yang akhirnya membuat mereka menjadi seperti itu.

Bicara tentang penampilan gue yang seperti ini (Bang Franky Sihombing ini bertato loh...-red), sebenarnya 100% tujuannya bukan untuk pelayanan tapi lebih karena memang gue suka. Ini alasan pertama. Gue suka tampil apa adanya, ekspresif dan bisa mencerminkan siapa gue sebenarnya. Tapi memang gue juga ga bisa memungkiri kalau penampilan ini punya andil untuk membuat pelayanan gue bisa lebih diterima dan lebih enak untuk bisa bersama-sama dengan komunitas pelayanan gue. Dengan penampilan gue yang apa adanya, mereka bisa lebih ‘fun’ ke gue dibanding gue yang formal... lebih besar kemungkinan untuk mereka menjauh.


Tidak selamanya di dalam pelayanan gue selalu merasa OK. Ada kalanya stagnasi pada suatu titik dan perasaan pengen berhenti itu ada. Biasanya yang menjadi ‘trigger’-nya adalah kejadian-kejadian. Ada banyak kejadian misalnya kalo gue melihat ada satu orang kok ga berubah-berubah, atau gue merasa gagal untuk beberapa orang yang gue layani. Gue sempat berpikir, ‘Apakah memang ini benar? Apakah yang gue lakukan sekarang itu sudah seharusnya?’ Kadang kalau melihat pelayanan orang lain pun bisa membuat gue berpikir. Kenapa gue ada di sini? Kenapa gue ga milih pelayanan seperti yang dia pilih? Tapi gue lihat penghiburan dari Tuhan itu ga pernah berhenti. Tuhan hibur gue dengan melihat segelintir orang yang bisa diubahkan dan dipimpin yang akhirnya mereka pun bisa memimpin dan menginspirasi orang lain.



Kunci yang terpenting untuk dapat bertahan dan menghadapi saat-saat sulit dalam pelayanan adalah komunitas. Gue bersyukur banget untuk komunitas yang gue miliki sekarang. Gue ada di komunitas yang saling mengingatkan dan saling menguatkan. Dukungan dari keluarga juga benar-benar gue rasakan dalam menjalankan pelayanan ini, terutama dari istri gue. Dia termasuk orang yang selalu mendorong gue untuk terus maju dan menjalani pelayanan yang sudah Tuhan kasih untuk gue jalanin. Yang pasti, bantuan dari orang-orang terdekat itu berarti banget buat gue. Untuk saat ini gue sedang mengerjakan album HEALING WORSHIP 2 yang akan keluar akhir tahun ini. Album gue yang terbaru adalah SAAT MENYEMBAH 5 (let's check it out haha...). Buat gue, Tuhan itu luar biasa and gue tahu DIA belum selesai berkarya dalam hidup gue

14.52

Kesempatan Yang Sama - Franky Sihombing

“Raja Salomo”... jika kita mendengar nama itu terbayang didalam pikiran kita seseorang yang hidupnya sangat diberkati Tuhan. Seseorang yang telah mencapai titik-titik yang diingini setiap manusia. Salomo telah mencapai titik kekuasaan dengan mempunyai kerajaan yang terbesar di dunia. Salomo telah mencapai titik kekayaan sehingga ia membangun Bait Allah yang seluruh bangunannya berlapis emas! Salomo bukan cuma kaya dan berkuasa tetapi ia adalah orang yang terpandai dan berhikmat didunia. Dan ia juga seorang yang ganteng, terbukti dari istrinya yang 1000 orang!! Salomo telah menjadi seorang pria yang diidam-idamkan setiap pria! Seorang yang berkuasa, kaya raya dan ganteng... apa lagi yang kurang? Alkitab mencatat sebelum dan sesudah Salomo tidak ada orang yang berhikmat dan kaya raya sepertinya! Singkatnya Salomo telah mencapai setiap titik yang manusia selalu ingin sampai dititik-titik itu. Sekarang... marilah kita mendengar perkataan dari seorang yang telah begitu sukses didalam hidupnya: “Kesia-siaan belaka, kata Pengkotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” Pengkotbah 1:2. Seorang yang telah memiliki dan merasakan semuanya telah berkata bahwa segala sesuatu adalah sia-sia! Kata ‘sia-sia’ diulang sampai tiga kali didalam ayat 2 ini. Jika saudara membaca Pengkotbah 12:8, Salomo menasehati setiap pemuda-pemudi: “Kesia-siaan atas kesia-siaan, kata Pengkotbah, segala sesuatu adalah sia-sia.” Tiga kali lagi ia mengucapkan ‘sia-sia’. Seorang yang telah merasakan semuanya dan mencapai semua yang diinginkan setiap manusia yang ‘normal’ karena hanya orang mati dan orang gila yang tidak mau kaya, berkuasa/berkedudukan tinggi dan ganteng... diakhir hidupnya Salomo hanya berkata bahwa segala sesuatu adalah sia-sia! Wow.... apa yang salah? Jika semuanya adalah sia-sia, apakah ada yang tidak sia-sia? Apakah ada yang betul-betul berarti? Pertanyaan selanjutnya buat saudara, “Apakah yang sedang engkau kejar sekarang?” Kepandaian? Kekayaan? Kecantikan? Untuk apa engkau sekolah tinggi-tinggi? Untuk apa engkau bekerja keras, bahkan sampai “over-time”? Untuk apa itu semua?? Apakah yang engkau ingin capai didalam hidupmu?

Didalam hidup kita sebagai orang Kristen, seringkali kita berpikir bahkan bertanya-tanya “Mengapa orang yang tidak percaya Tuhan Yesus, mereka lebih kaya dari kita (orang Kristen)?” “Mengapa mereka lebih pandai dari anak-anak Tuhan?” Adilkah Tuhan jika ada seorang yang cinta Tuhan, melayani Tuhan, memberi persembahan, murah hati...tetapi ia mati muda karena tertabrak truk? Adilkah Tuhan menurut saudara, jika seorang anak lahir dari keluarga yang melarat? Adilkah Tuhan jika seseorang bertumbuh dengan tidak pernah merasakan ’bangku sekolah’ dan hidup susah seumur hidupnya? Setiap kita pasti berpikir dan bertanya-tanya didalam hati kita, mengapa itu terjadi? Mengapa Tuhan membiarkannya? Apakah Tuhan membeda-bedakan orang? Hari ini mungkin pertanyaan saudara bertambah satu “Mengapa Salomo yang telah memiliki semuanya berkata segala sesuatu sia-sia?” Mari kita lihat jawabannya di Pengkotbah 9:11, “Lagi aku melihat dibawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendikia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.” Mungkin engkau sedikit bingung membaca ayat ini.... mari saya jelaskan: didalam setiap perlombaan yang menang pasti yang tercepat tetapi menurut Tuhan bukanlah yang tercepat. Didalam setiap peperangan pasti yang terkuat yang menang tetapi menurut Tuhan bukan yang terkuat yang menang. Setiap orang belajar sampai tingkat education tertinggi dengan harapan bisa mendapat pekerjaan yang terbaik sehingga bisa mempunyai kekayaan, tetapi sekali lagi tidak demikian didalam Tuhan. Allah kita adalah Allah yang adil! Bukan berarti setiap orang yang cacat atau miskin tidak bisa mencapai apa yang diinginkan karena “waktu dan nasib dialami mereka semua” didalam bahasa Inggris kata ‘nasib’ di tulis ‘opportunity’ atau ‘kesempatan’. Jadi setiap orang mempunyai kesempatan yang sama. Tidak perduli apakah ia itu sehat atau cacat, kaya atau miskin... setiap orang diberi kesempatan yang sama. Allah memberikan waktu yaitu 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu! Betapapun kayanya saudara, engkau tidak bisa membeli hari sehingga engkau mempunyai 8 hari dalam seminggu. Allah memberikan waktu dan kesempatan yang sama pada setiap orang! Apa yang saudara sedang kejar? Salomo berkata semuanya sia-sia. Apa yang tidak sia-sia? Yesus adalah yang membuat hidup kita berarti dan penuh! Salomo didalam kata-kata terakhirnya berkata, “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya...” Peng 12:13. Saudara yang terkasih maukah saudara berkata “Aku mau memakai kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya dan aku tidak akan menyia-nyiakan waktu yang Tuhan sudah berikan” Allah adalah Allah yang adil! Remember: “Opportunity is not always come twice!”